Pria 6 Juta Lembar Saham

Memulai membutuhkan keberanian, membesarkan butuh perjuangan.
Dengan niat dan doa mencoba keluar dari zona nyaman,
berikhtiar dengan usaha rumah makan.

Oleh TIM SCW RADIO HSI

Jum’at, 18 September 2020
Arie Ardyanto Abu Annisa (Owner 5oUs Steakhouse & Warung Ayam Bule)
 
 

Arie Ardyanto lahir di Bandung, 51 tahun yang lalu. Saat ini beliau berdomisili di Pekanbaru, Riau. Sejak kecil, Pak Arie telah diajari oleh orang tuanya untuk shalat tahajud. Sehingga setiap ada keinginan, beliau melakukannya. Ketika beliau ingin masuk di sekolah-sekolah favorit beliau mengadukan permintaannya tersebut kepada Allah dan berikhtiar dengan belajar. Di SD, beliau pernah mendapatkan prestasi yang bagus. Beliau memang tidak suka belajar, namun di SMA, Allah memberikan kemudahan kepada beliau sehingga bisa masuk Perguruan Tinggi Negeri tanpa tes.

Orang tua Pak Arie berasal dari Jawa. Dulu bapak beliau rahimahullah menjadi dosen di ITB sehingga beliau lahir dan dibesarkan di Bandung. Pak Arie merantau ke Jakarta untuk  mencari nafkah hingga tahun 2011. Kemudian beliau merantau ke Pekanbaru. Beliau pernah menjadi asisten dosen selama berkuliah dan sebenarnya beliau memiliki cita-cita menjadi dosen. Beliau pernah mencoba melamar sebagai dosen di salah satu universitas swasta di Jakarta, namun Allah tidak menghendakinya untuk menjadi dosen, hingga akhirnya beliau memilih bekerja di bank. Beliau menyadari bahwa segala apa yang didapatkannya selam ini merupakan kemudahan dari Allah.

Setelah menyelesaikan kuliahnya, beliau menjadi asisten dosen di kampus selama kurang lebih 6 bulan. Setelah 6 bulan mengerjakan proyek bersama dosen, namun ternyata tetap saja beliau tidak bisa menjadi dosen. Akhirnya beliau mendapat mendapat proyek ke House Halton di Jakarta sehingga pada tahun 1993 beliau memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Kemudian beliau menjadi konsultan selama beberapa bulan. Beliau pun pernah mendapat proyek di Universitas Indonesia. Setelah proyek tersebut selesai, beliau mendapat panggilan kerja. Entah mengapa mindset beliau setelah lulus adalah bekerja di bank karena beliau memandang bahwa kakak beliau bisa sukses dengan bekerja di bank. Saat itu, 5 surat lamaran pekerjaan beliau, semuanya ditujukan ke bank. Akhirnya beliau diterima di salah satu bank nasional dimana bekerjanya di sebuah perusahaan yang saat itu akan go public. Beliau mulai bekerja di bank pada tahun 1995 dan baru mengetahui tentang hukum bekerja di sana pada tahun 2011. Di tahun 2011 juga beliau memutuskan untuk resign dari bank.

“Apa yang kelihatan baik, sebetulnya tidak selalu kelihatan baik di mata Allah.”

Pak Arie berkata bahwa, “Apa yang kelihatan baik, sebetulnya tidak selalu kelihatan baik di mata Allah.” Beliau juga menasihatkan kepada para pemirsa bahwa buah bekerja di bank itu adalah riba. Ketika hidup di pusaran riba, seperti yang telah dijelaskan dalam surah Al-Baqarah, nanti di hari kiamat akan dibangkitkan seperti orang kesurupan, tidak bisa berdiri, seperti orang gila. Itulah keadaan orang-orang yang bekerja sehari-sehari dalam riba. Beliau mempresentasikan bahwa mereka yang bekerja di bank, kehidupannya diliputi kegalauan dan kekacauan. Meskipun secara materi terpenuhi, tetapi secara rohani tidak sehat, atau sebaliknya. Kalaupun keduanya terpenuhi, mungkin ia terkena istidraj.

Saat itu, setiap Pak Arie memiliki uang maka akan dibelikan saham. Beliau mengenal bursa saham ketika sudah setahun lebih bekerja di bank. Pak Arie mengenal hal itu dari seorang kawannya yang menawarkan dan mengenalkan kepada beliau bagaimana cara transfer di bursa saham. Hal tersebut beliau lakukan sampai tahun 2017. Beliau bertaubat setelah mempelajari muamalah maaliyah bersama Ustadz Erwandi Tarmidzi hafidzahullah.

Ketika shalat di Masjid Salman ITB, beliau bertemu salah seorang ikhwan HSI yang meminjaminya buku Sifat Shalat Nabi karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafidzahullah. Kemudian Pak Arie mencari-cari buku itu hingga akhirnya membeli 3 buku tersebut, yang salah satu diantaranya beliau berikan kepada sopir kantornya. Dalam perbincangan antara beliau dengan sopirnya, beliau berkata, “… kalau buat ana, hitam ya hitam, putih ya putih, jangan abu-abu, apalagi dalam hal syari’at.” Setelah 16 tahun bekerja di bank, beliau baru mengetahui bahwa itu adalah riba dan Allah memberikan kesempatan beliau untuk resign.

Setelah beberapa bulan kerja di bank, ada beberapa rekan kerja beliau yang mengajaknya untuk bergabung dalam MLM. Pada tahun 2000, beliau bergabung dalam MLM dan setahun setelahnya berhasil masuk peringkat-peringkat. Meski tidak sampai puncak, tetapi secara materi lumayan banyak. Beliau tinggalkan itu semua setelah mengaji.

Selama menjadi pegawai, ada beberapa bisnis yang dibangun oleh Pak Arie. Namun, saat itu beliau hanya sebagai investor. Jadi beliau mempercayakannya kepada teman-teman atau orang yang dikenalkan oleh kakak beliau untuk membuat beberapa usaha, seperti warnet dan pengisian bahan bakar minyak di kapal tanker. Beliau menjalani usaha tersebut dalam rangka untuk mem-backup jika sewaktu-waktu beliau tidak bisa bekerja lagi di perusahaannya. Beliau berkata bahwa dalam setiap sesuatu yang dikerjakan atau pernah dikerjakan namun berujung gagal maka harus ada ibroh yang bisa diambil.

Setelah resign, beliau memilih Pekanbaru sebagai tempat menetap. Karena selama di Jakarta Pak Arie dan keluarga memiliki hobi makan, maka Pak Arie melihat segmentasi pasar di Pekanbaru, hingga akhirnya memutuskan untuk membuka usaha kuliner daging steak. Menurut Pak Arie, usaha kuliner hanya perlu inventori bahan baku selama seminggu atau sebulan dengan konsep tempat yang telah dimiliki. Daging yang digunakan masih dalam keadaan frozen sehingga tidak khawatir akan terjadi kerusakan. Beliau membuat makanan berdasarkan pesanan yang ada sehingga tidak ada makanan yang terbuang dan tidak khawatir dengan sistem prasmanan. Beliau merintis usaha tersebut pada tahun 2012. Saat itu harga steak-nya masih Rp 55.000 (200 gram). Pengalaman pertama saat beliau membuka usaha steak bisa dibilang amburadul. Namun, dalam beberapa bulan pertama, track record dalam melayani tamu bisa mencapai 160 orang dalam semalam.

Setelah Garden Kitchen berjalan beberapa waktu, beliau berinvestasi di tempat lain. Dalam waktu kurang lebih 2 tahun, beliau mempunyai 3 cabang. Dalam semua usaha memang harus ada inovasi untuk melebarkan segmentasi pasar. Oleh sebab itu, Pak Arie membuka Warung Ayam Bule, yang sebenarnya usaha ini adalah perubahan dari nama Garden Kitchen, dengan tempat yang sama, namun konsepnya berbeda.

Pak Arie jarang mengalami perbedaan pendapat dengan istrinya sehingga tidak ada kesulitan yang berarti bagi beliau dalam berwirausaha di bidang kuliner ini. Dari Garden Kitchen, Warung Ayam Bule hingga 5oUs Steakhouse, pencetus konsep tersebut murni berasal dari beliau dan istrinya. Prinsip dari beliau yakni “Daripada mengeluarkan biaya untuk orang lain, lebih baik kita lakukan sendiri.” Ini bisa menjadi kiat dalam memulai wirausaha yaitu dengan menekan biaya.

Di bidang kuliner, jika punya modal sebesar 150 juta, maka net profitnya bisa mencapai 70 juta sebulan. Itu di satu cabang. Bisnis kuliner itu harus ada momentumnya. Di bawah 2 tahun, harus sudah balik modal sehingga di 2 tahun berikutnya hanya akan memikirkan bagaimana keuntungannya. Dalam suatu kondisi, beliau menutup usahanya tersebut karena beliau fokus dengan kegiatan lain. Setelah 3 tahun full mengaji, mulai banyak yang meminta kepada beliau untuk membuka steak house lagi. Secara harfiah, 5oUs Steakhouse adalah steak house dimana orang yang ingin makan di situ harus melakukan reservasi terlebih dulu satu jam sebelumnya. Beliau menjelaskan bahwa kunci melakukan suatu bisnis adalah passion, sedangkan jika ingin memasak maka harus menghadirkan rasa cinta dan respect terhadap makanan. Target Pak Arie dan istrinya ketika para tamu selesai makan dari 5oUs Steakhouse adalah mereka harus senyum. Senyum karena makanannya enak dan senyum karena bayarnya juga menyenangkan.

Di bidang kuliner, kunci agar pengunjung mau datang kembali adalah pada “rasa”. Konsep rumahan dari 5oUs Steakhouse sendiri berasal dari konsep memuliakan tamu yang telah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau ingin meng-handle sendiri tamu yang datang sehingga di 5oUs Steakhouse terkesan benar-benar homey. 5oUs sebenarnya adalah 5 of us (5 dari kita). Berlima itu adalah Pak Arie, istrinya, dan 3 orang anak perempuan beliau. 5oUs itu pun, mengandung arti dan ada filosofinya tersendiri. Beliau membuka 5oUs Steakhouse itu bukan seperti sedang mencari uang, namun lebih kepada menyenangkan pelanggan, asalkan hati beliau dan keluarga bahagia. Bekerja dari hati, kesenangan dan rezeki pun tetap mengalir. Karena sebenarnya rezeki itu tidak dipandang hanya dari nominalnya saja. Rezeki itu bisa berasal dari rezeki kita bisa makan, sehat, dalam keadaan aman, bisa beribadah, dan lain sebagainya. Itu merupakan kenikmatan yang luar biasa.

Ketika kita sibuk dengan menuntut ilmu, maka jangan takut jika rezeki akan hilang. Karena ketika kita mengejar akhirat, maka dunia pasti akan mengikuti. Pak Arie mengubah mindset-nya sesuai dengan apa yang telah dijelaskan dalam QS. Adz-Dzariyat: 56 sehingga ketika telah masuk waktu shalat beliau berhenti dulu. Beliau mengatakan bahwa tidak perlu takut dengan segmen karena jika kembali pada QS. Hud: 6, tidak ada satu makhluk pun yang bergerak di bumi melainkan telah Allah jamin rezekinya. Beliau yakin dengan janji Allah itu, asalkan tetap berikhtiar dan tidak bermalas-malasan. Setelah beliau belajar sekian lama, beliau menyadari bahwa jika memang itu bukan rezekinya maka tidak perlu ngoyo atau marah. Cara beliau untuk segera bangkit dari kegagalan adalah mencoba untuk memahami bahwa musibah itu datang sebagai penggugur dosa, atau Allah akan memberi ganti yang lebih baik, atau Allah merahasiakan sesuatu yang kita belum tahu hikmahnya. Bahwa dengan jatuhnya kita, masih ada mereka yang ada di bawah kita dan akan rugi umur kita jika hanya fokus pada kegagalan. Jika terkadang kita mendapatkan rezeki yang tidak terduga, maka kehilangan sesuatu juga hal yang wajar. Rezeki itu sudah ditakar dan jika rezeki itu telah sempurna, maka justru itulah tanda bahwa kita akan kembali ke hadapan-Nya. Maka kita harus bersyukur dan jangan terlena dengan rezeki yang mengalir secara terus menerus.

Masa pandemi ini memang luar biasa dan kita tahu bahwa semua itu datangnya dari Allah. Namun, hendaknya kita dapat mengambil hikmahnya, seperti lapisan ozon menjadi lebih sehat. Jika kita sudah mengetahui bahwa rezeki itu sudah ditakar, maka kita tidak akan khawatir. Jika kita sudah menyerahkan urusan kita kepada Allah maka kita tidak perlu takut terhadap rezeki.

Bagi seorang wirausaha atau yang ingin memulai berwirausaha, Pak Arie memberikan kiat sebagai berikut:

  1. Harus menguasi ilmu syar’i tentang muamalah.
  2. Jika bisnisnya gagal, maka ia harus meneliti mengapa bisnisnya gagal dan bermuhasabah diri.
  3. Meminta kepada Allah di waktu-waktu yang mustajab.
  4. Jangan menyerahkan usaha kepada orang lain, jika bisa dikerjakan sendiri.
  5. Cari usaha yang benar-benar sesuai dengan passionyang dimiliki.
  6. Cari usaha yang kelihatannya jika gagal, dampaknya tidak begitu menyakitkan, seperti usaha di bidang kuliner.

Jika ingin bermuamalah, maka kita harus memastikan bahwa usaha itu bebas dari riba, apapun bentuknya. Pesan terakhir beliau sebelum acara ini usai yaitu, “Kalau antum punya harta banyak tetapi masih ada unsur riba di dalamnya, masih ngeri, tetapi kalau antum punya harta yang cukup dan qonaah dengan antum mengerti bahwa harta itu halal, maka itu akan lebih membuat bahagia.”